News

Menkeu Optimistis IHSG Terus Menguat Seiring Membaiknya Ekonomi Domestik

360
×

Menkeu Optimistis IHSG Terus Menguat Seiring Membaiknya Ekonomi Domestik

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah depan) saat membuka perdagangan awal tahun di Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2025)

NEWSENERGI.COM – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan optimismenya terhadap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diprediksi akan terus bergerak positif sepanjang tahun ini. Hal ini didorong oleh fondasi ekonomi domestik yang dinilai semakin kokoh.

Dalam pembukaan perdagangan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2026), Menkeu menegaskan bahwa sinergi kebijakan menjadi kunci utama penguatan pasar modal.

“IHSG dibuka naik, saya pikir ada optimisme di pasar kita akan membaik terus ke depan. Pondasi ekonomi yang sudah membaik, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia makin selaras,” ujar Purbaya.

Menkeu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2025 tetap berada di angka 5,2 persen, dengan perkiraan capaian triwulan IV-2025 di angka 5,5 persen. Menurutnya, perbaikan dunia usaha secara otomatis akan mendorong kenaikan harga saham di bursa.

Tantangan Kontribusi PDB dan Performa Blue Chip
Meski IHSG menunjukkan tren positif, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, memberikan catatan kritis terkait performa saham-saham unggulan. Ia menyoroti Indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen, angka yang dinilai masih jauh di bawah kenaikan IHSG secara keseluruhan.

Mahendra juga membandingkan kontribusi pasar modal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang saat ini berada di angka 72 persen. Meski naik signifikan dibanding akhir 2024 (56%), angka ini masih tertinggal jauh dari negara tetangga.

“Potensi pengembangan pasar saham kita masih sangat besar. Sebagai perbandingan, kontribusi pasar saham terhadap PDB di India mencapai 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen,” jelas Mahendra.

Perlindungan Investor Ritel Jadi Prioritas
Satu fenomena menarik di pasar modal Indonesia adalah lonjakan jumlah investor ritel. Data menunjukkan porsi transaksi investor ritel meningkat tajam dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi 50 persen di penghujung 2025.

READ  IHSG Menguat ke Level 7.924, Transaksi Capai Rp 3,1 Triliun.

Melihat dominasi investor individu ini, OJK berkomitmen untuk memperketat pengawasan guna menjamin keamanan bertransaksi. Mahendra menekankan pentingnya aspek perlindungan konsumen agar pasar modal Indonesia tetap sehat dan kredibel.

“Investor ritel harus dilindungi dari praktik kemungkinan goreng-menggoreng saham dan transaksi tidak wajar, serta bentuk manipulasi lainnya yang merugikan,” tegas Mahendra.

Dengan kolaborasi antara pemerintah dan regulator, pasar modal Indonesia tahun 2026 diharapkan tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga kualitas perlindungan bagi para pelakunya. (WZU)