News

Prabowo Resmikan Biodiesel B50, Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Mandatori 50 Persen

260
×

Prabowo Resmikan Biodiesel B50, Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Mandatori 50 Persen

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto

NEWSENERGI.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program mandatori Biodiesel 50 persen (B50) di Rest Area KM 57 Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Kebijakan tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan penggunaan biodiesel dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati secara mandatori.

Presiden Prabowo mengatakan penerapan B50 bukan hanya menjadi pencapaian dalam bidang teknologi energi, tetapi juga menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengoptimalkan sumber daya alam nasional untuk kepentingan masyarakat.

“Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri,” kata Prabowo dalam keterangan yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Prabowo menjelaskan, pemerintah telah mendorong percepatan pemanfaatan biodiesel sejak sebelum dirinya menjabat sebagai Presiden. Setelah resmi memimpin pemerintahan, langkah tersebut terus dilanjutkan dengan meningkatkan bauran biodiesel secara bertahap dari B40 hingga menuju target yang lebih tinggi, yakni B100.

Menurutnya, pengembangan energi berbasis sumber daya dalam negeri menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Hemat Devisa hingga Rp170 Triliun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi program B50 memberikan dampak signifikan terhadap penghematan devisa negara.

Menurutnya, jika pada penerapan B40 penghematan devisa mencapai sekitar Rp133 triliun, maka dengan peningkatan menjadi B50 angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp170 triliun.

“Pada B40, penghematan devisa Rp133 triliun, dengan implementasi B50 ternyata penghematan bisa Rp170 triliun,” ujar Bahlil.

Selain mengurangi kebutuhan impor solar, penerapan B50 juga memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional. Nilai tambah industri minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) diperkirakan meningkat dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.

READ  Pertamina Patra Niaga dan Lemigas Pastikan Pertalite Sesuai Standar Pemerintah

Program tersebut juga disebut mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Jika pada program B40 jumlah tenaga kerja yang terserap sekitar 1,8 juta orang, maka melalui B50 angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

Dorong Industri Sawit dan Beri Kepastian Pasar Petani

Bahlil menjelaskan, penerapan B50 akan meningkatkan kebutuhan CPO nasional dari sebelumnya sekitar 15,2 juta ton menjadi 16,3 juta hingga 17 juta ton.

Menurutnya, peningkatan kebutuhan tersebut dapat memberikan kepastian pasar bagi petani kelapa sawit sekaligus memperkuat industri hilirisasi dalam negeri.

“Kalau harga CPO di luar negeri rendah dan negara lain tidak mau membeli, kita bisa sisihkan untuk bangun industri hilirisasi B50. Supaya harga petani dan industri naik, dan negara sejahtera,” ujar Bahlil.

Melalui program B50, pemerintah berharap industri kelapa sawit tidak hanya bergantung pada pasar ekspor, tetapi juga memiliki pasar domestik yang kuat melalui pengembangan energi terbarukan berbasis bahan baku lokal.

Implementasi biodiesel B50 menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi energi, memperkuat kemandirian energi nasional, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas unggulan Indonesia. (ACR)