News

Serangan ke Iran Guncang Pasar Energi, Harga Minyak Berpotensi Naik

319
×

Serangan ke Iran Guncang Pasar Energi, Harga Minyak Berpotensi Naik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Metro TV

NEWSENERGI.COM – Dunia kini berada dalam bayang-bayang krisis energi setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis. Serangan militer langsung yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya terhadap sejumlah fasilitas di Iran telah memicu kekhawatiran hebat terhadap stabilitas pasokan minyak mentah dunia.

Pasar minyak global diproyeksikan akan langsung mengalami koreksi harga yang signifikan begitu perdagangan awal pekan depan dibuka.

Selat Hormuz: Titik Nadi Minyak Dunia
Melansir CNBC International, Minggu (1/3/2026), fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini merupakan chokepoint paling vital di dunia.

Data menunjukkan sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari, atau setara dengan 31% dari total arus minyak jalur laut dunia, melewati selat ini. Jalur tersebut merupakan urat nadi ekspor bagi produsen raksasa seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Risiko Lebih Besar dari Krisis Venezuela
Para analis menilai eskalasi kali ini jauh lebih berbahaya dibandingkan krisis energi masa lalu, termasuk ketegangan di Venezuela. Hal ini disebabkan oleh kemampuan militer Iran yang dianggap mampu mengganggu lalu lintas kapal tanker secara langsung.

“Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela. Itulah mengapa risikonya lebih besar. Anda bisa memperkirakan harga minyak akan naik lebih tajam minggu depan sebagai akibatnya,” ujar Florian Weidinger, Kepala Bagian Investasi di Santa Lucia Asset Management.

Proyeksi Harga: Melambung hingga 10%
Analis dari Rystad Energy memperkirakan jika Iran melakukan aksi balasan yang mengganggu arus pengiriman, harga minyak mentah jenis Brent bisa dengan mudah menembus level psikologis US$100 per barel. Secara jangka pendek, harga diprediksi melonjak antara 5% hingga 10%.

READ  Dukungan Penuh Juragan 99, Ayah Veda Ega Nonton Langsung Final Red Bull Rookies Cup di Italia

Loncatan harga ini membawa efek domino yang mengkhawatirkan:

1. Tekanan Inflasi: Negara importir di Asia dan Eropa akan menghadapi kenaikan biaya produksi dan transportasi.

2. Kebijakan Moneter: Bank Sentral AS (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) diprediksi akan kembali bersikap hawkish atau berhati-hati dalam menurunkan suku bunga jika inflasi energi kembali memanas.

Faktor Penahan Gejolak
Meski situasi mencekam, para ahli menyebut lonjakan harga bisa bersifat sementara jika konflik tidak meluas menjadi perang berkepanjangan dan Selat Hormuz tetap beroperasi normal.

Selain itu, AS dan negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) memiliki Cadangan Minyak Strategis (SPR) yang siap dilepas ke pasar kapan saja untuk meredam volatilitas harga yang ekstrem. (YXD)