News

Laba Astra International Turun Tipis ke Rp32,8 Triliun pada 2025, Bisnis Jasa Keuangan & Agribisnis Jadi Penopang

223
×

Laba Astra International Turun Tipis ke Rp32,8 Triliun pada 2025, Bisnis Jasa Keuangan & Agribisnis Jadi Penopang

Sebarkan artikel ini

NEWSENERGI.COM – Raksasa konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII) resmi merilis laporan keuangan tahunan untuk periode 2025. Perseroan mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp323,4 triliun, mengalami penurunan tipis sebesar 2% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar Rp328,5 triliun.

Sejalan dengan pendapatan, laba bersih emiten berkode saham ASII ini tercatat sebesar Rp32,8 triliun, turun 3% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp33,9 triliun. Laba bersih per saham pun ikut terkoreksi menjadi Rp810 dari sebelumnya Rp837.

Faktor Harga Komoditas dan Pasar Otomotif
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, mengungkapkan bahwa kondisi pasar mobil nasional yang lesu dan penurunan harga batu bara menjadi tantangan utama sepanjang tahun lalu.

“Kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya, meskipun laba mengalami penurunan akibat harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru,” ujar Djony dalam keterangan resminya, Jumat (27/2/2026).

Performa Sektoral: Otomotif Stabil, Jasa Keuangan Tumbuh
Meskipun menghadapi tekanan, beberapa divisi menunjukkan performa yang solid:

Otomotif & Mobilitas: Mencatat laba bersih Rp11,4 triliun (relatif stabil). Meski pasar mobil nasional turun 7%, Astra tetap mendominasi dengan pangsa pasar 51%. Sementara itu, pangsa pasar sepeda motor Honda stabil di angka 78%.

Jasa Keuangan: Laba tumbuh 9% menjadi Rp9 triliun, didorong oleh ekspansi pembiayaan baru yang naik 5% menjadi Rp112,3 triliun.

Alat Berat & Pertambangan: Laba divisi ini turun signifikan 24% menjadi Rp9,1 triliun akibat anjloknya harga batu bara. Namun, bisnis pertambangan emas menjadi penyelamat berkat kenaikan harga jual rata-rata sebesar 40%.

Agribisnis & Infrastruktur: Sektor agribisnis melonjak 28% menjadi Rp1,2 triliun berkat kenaikan harga CPO. Divisi infrastruktur juga tumbuh positif sebesar 24%.

READ  IHSG Bergerak Fluktuatif di Level 8.100, Aksi Buyback Emiten Jumbo Jadi Penopang

Dividen dan Buyback Saham
Astra berencana mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham dalam RUPST April 2026 mendatang. Jika digabungkan dengan dividen interim (Rp98/saham), maka total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp390 per saham.

Selain itu, perseroan menunjukkan kepercayaan diri terhadap nilai perusahaan dengan menyelesaikan program pembelian kembali saham (buyback). Tahap pertama senilai Rp2 triliun rampung pada Januari 2026, disusul tahap kedua senilai Rp685 miliar yang baru saja selesai pada 25 Februari 2026.

Strategi Masa Depan
Manajemen Astra saat ini tengah melakukan tinjauan strategis komprehensif terhadap portofolio bisnisnya yang ditargetkan selesai pada akhir semester I-2026. Fokus utama perseroan adalah menjaga keunggulan operasional dan disiplin dalam alokasi modal untuk menciptakan nilai berkelanjutan. (FZJ)